I GDE EKADHARMA SATRYA WIBAWA
13215183 / 1EA01
BAHASA INGGRIS #2
Tuesday, May 31, 2016
Friday, April 1, 2016
NGOBARAN BEACH
Ngobaran
Beach
What do you think today ?
Whatever you think today, about weather, your friends, your activity, your duty
or everything. So lets reading my stories when I went to Ngobaran Beach in Gunung
Kidul, Yogyakarta. My name is I Gde Ekadharma you may call me Iged or Gde. I just
want to tell you my holiday experince. On December, 30th 2015 until January 2nd 2016, adolescents from
Mustika Dharma Temples goes to Yogyakarta for Dharma Yatra. We were in
Jogja for 4 days. And the 3rd places we were went to Ngobaran Beach. Arrived in
there, immediately we prepared for praying together at the Temples. After that,
we changed our clothes to relax and the peoples around has been prepared for
dinner and we eaten in their house. They were narrated about their life in
Ngobaran. After all finished, we continued listen people who elder to sharing
about he experinces and dont forget he opened the question and answer sessions.
At midnight, we did meditation for New Year 2016. And we celebrated with a
firework party.
In the morning,
we walked around the beach. The beauty of the waves as scrolling the sea. Many people
writed in the sand. Clouds are beautifully accompanied sun began to came out. The
rocks covered with moss. The fish appears suddenly under a rock. Oh God how
wonderful creations. The cliff standing such a perfect breaks the island. Did not
forget we taken a selfie with friends while the people enjoy the atmosphere. Far
above the beach, there is a Pandawa Statue. We were very enjoyed the beauty of
nature. Were so comfortable and peaceful atmosphere makes me didn’t want to go
home.
I GDE EKADHARMA S W
13215183/1EA01
I GDE EKADHARMA S W
13215183/1EA01
Monday, November 30, 2015
BAB 4 MANUSIA DAN CINTA KASIH
MANUSIA DAN CINTA KASIH
DWI LARASATI 12215043
FEBRIAN WAHYU 12215591
I GDE EKADHARMA S W 13215183
NATASHIA CLARITA U 14215993
ZULFIA NURUL FITRI 17215419
KELAS : 1EA01
MATA KULIAH : ILMU BUDAYA DASAR#
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015
a.
Pengertian
Cinta Kasih
Menurut kamus umum bahasa Indonesia
karya W.J.S. Poerwadarminta, cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa)
saying (kepada), ataupun (rasa) sangat kasih atau sangat tertarik hatinya.
Sedangkan kata kasih artinya perasaan saying atau cinta kepada atau menaruh
belas kasihan. Dengan demikian arti cinta dan kasih hampir bersamaan, sehinga
kata kasih memperkuat rasa cinta. Karena itu cinta kasih dapat diartikan
sebagai perasaan suka kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas
kasih.
Walaupun cinta kasih mengandung arti
hamper bersamaan, namun terdapat perbedaan juga antara keduanya. Cinta lebih
mengandung pengertian mendalamnya rasa, sedangkan kasih lebih keluarnya; dengan
kata lain bersumber dari cinta yang mendalam itulah kasih dapat diwujudkan secara
nyata.
Cinta memegang peranan yang penting
dalam kehidupan manusia, sebab cinta merupakan landasan dalam kehidupan
perkawinan, pembentukan keluarga dan pemeliharaan anak, hubungan yang erat di
masyarakat dan hubungan manusiawi yang akrab. Demikian pula cinta adalah
pengikat yang kokoh antara manusia dengan Tuhannya sehingga manusia menyembah
Tuhan dengan ikhlas, mengikuti perintah-Nya, dan berpegang teguh pada
syariat-Nya.
b.
Cinta
Menurut Ajaran Agama
ü Cinta tingkat tinggi
ü Cinta kepada Tuhan
Cinta manusia, yang paling bening,
jernih dan spiritual ialah cintanya kepada Allah dan kerinduannya kepada-Nya.
tidak hanya dalam shalat, pujian, dan doanya saja, tetapi juga dalam tindakan
dan tingkah lakunya, semua tingkah laku dan tindakan ditujukan kepada Allah.
Dan didalam rukun iman pun percaya kepada Allah adalah rukun yang pertama. Maka
dari rukun itu kita dapat menyimpulkan bahwa cinta kepada Allah SWT adalah
sangat penting.
ü Cinta tingkat menengah
ü Cinta Kepada Orang Tua
Cinta Kepada Orang Tua, awalnya sudah
sangat umum untuk kita semua. Karena pasti setiap anak akan cinta sekali kepada
orang tua nya karena orang tua adalah orang yang sangat dekat sekali dengan
kita disaat kita susah, senang, gembira, sedih orang tua selalu ada entah itu
ayah atau ibu kita. Cinta kepada orang tua ini adalah cinta yang ada karena
hubungan Fisiologis seperti hubungan ibu dengan anak serta hubungan ayah dengan
anaknya.
ü Cinta Kepada Suami/Istri atau
Keluarga
Cinta
kepada suami/istri termasuk cinta lanjutan, mengapa disebut cinta lanjutan
karena cintanya dilanjutkan kedalam hubungan yang serius melalui jalan atau
proses perkawinan. Dan diri cinta itulah akan terlahir cinta baru yaitu
cintanya kepada keluarga dan keluarganya tersebut akan di bimbing untuk menjadi
keluarga yang bahagia, keluarga yang Sakinah, Mawaddah dan Warrahmah.
ü Cinta Sesama Manusia
Agar manusia dapat hidup dengan penuh
keserasian, ketentraman serta keharmonisan dengan orang lain, setiap manusia
harus menghilangkan sifat egois atau ingin menang sendiri dan juga membatasi
rasa cintanya kepada diri sendiri. Manusia pula adalah makhluk sosial
makhluk yang tidak bisa hidup sendiri dan makhluk yang perlu bantuan orang
lain, maka dari situ kita dapat belajar satu kesimpulan yaitu kita harus
mengerti dan mencintai satu sama lain, agar kita dapat menolong satu sama lain
dengan saudara-saudara kita disana. Dan itulah gunanya jika kita mencintai
kepada sesama manusia.
ü Cinta tingkat bawah
v Cinta Diri Sendiri
Cinta diri
erat kaitannya dengan dorongan menjaga diri untuk tetap hidup, mengembangkan
potensi diri dan mengaktualisasikan dirinya. Jadi ia mencintai sesuatu yang
membuat dirinya menjadi lebih baik. Dan sebaliknya dia akan membenci sesuatu
yang membuat hidupnya sedih atau terancam mara bahaya. Al-Qur’an telah
mengungkapkan cinta alamiah manusia terhadap dirinya sendiri, kecenderungan
untuk menuntut segala sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi dirinya, dan
menghindarkan segala sesuatu yang membahayakan dirinya.
v Cinta Harta Dan Jabatan
Cinta harta dan jabatan akan kita
sering temukan di dunia nyata selama hawa nafsu manusia tidak dapat ditahan
oleh kita sendiri. Harta dan jabatan adalah sifat sementara di dunia kita. Dan
sifatnya permanen dalah ibdah dan amal kita yang akan dibawa samapi akhir hayat
kita nanti. Maka dari itu kita harus mengurai cinta kepada kita harta dan
jabatan. Kita boleh memperbanyak harta tetapi kita tidak boleh sombong dan riba
karena itu akan menjatuhkan kita nanti dialam kubur kelak. Allah SWT pun tidak
suka kepada hambanya yang terlalu tergila kepada jabatan serta hartanya, apalgi
hartanya tesebut bukan dari rezeki yang halal.
v Cinta Kasih Menurut Negara
Cinta kasih
menurut negara adalah, jiwa ragadan semanggat kita di tuangkan atau ditujukan
kepada negara kita. Tidak hanya melalui peperangan ataupun pertempuran darah
untuk kita dapat mebuktikan kecintaan kita terhadap negara kita.tetapi kita
dapat mebuktikan kecintaan kita kepada negara dengan cara menunjukan ketertiban
kita yaitu melaksanakak aturan aturan di negera kita di daerah manupun kita
tinggal.
c.
Kasih
Sayang
Kasih sayang adalah suatu sikap saling menghormati dan
mengasihi semua ciptaan Tuhan baik mahluk hidup maupun benda mati seperti
menyayangi diri sendiri sendiri berlandaskan hati nurani yang luhur. Kita
sebagai warga negara yang baik sudah sepatutnya untuk terus memupuk rasa kasih
sayang terhadap orang lain tanpa membedakan saudara , suku, ras, golongan, warna
kulit, kedudukan sosial, jenis kelamin, dan tua atau muda. Kasih sayang
begitu penting didunia ini, bahkan manusia akan merasa kekeringan dalam hidup
jika tanpa kasih sayang. Semua orang pasti ingin dicintai dan dikasihi,dari
bayi sampai lanjut usia semua membutuhkan cinta dan kasih sayang. Merupakan
renunganyang harus benar-benar diperhatikan adalah bagaimana kita menumbuhkan cinta
dan kasihsayang yang baik terhadap diri kita dan orang lain, yang kita semua
adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Kasih sayang yang baik sebenarnya adalah :
Memberi bukan menerima.
Tidak menuntut orang lain berbuat baik dulu kepada kita baru kita membalasnya dengan kasih, tetapi kita harus tetap mengasihi tanpa syarat. Kasih itu juga dapat didefinisikan sebagai berikut :
Kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, kasih tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Kasih tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, kasih tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersuka cita karena ketidak adilantetapi karena kebenaran.
Tidak menuntut orang lain berbuat baik dulu kepada kita baru kita membalasnya dengan kasih, tetapi kita harus tetap mengasihi tanpa syarat. Kasih itu juga dapat didefinisikan sebagai berikut :
Kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, kasih tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Kasih tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, kasih tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersuka cita karena ketidak adilantetapi karena kebenaran.
Kasih mendorong kita dalam pengembangan mendahulukan kepentingan orang lain, dari pada kepentingan diri sendiri.
d.
Kemesraan
Kemesraan berasal dari kata dasar
‘mesra’, yang artinya perasaan simpati yang akrab. Mesra juga dapat diartikan
sebagai suatu proses hubungan yang erat. Secara istilah, kemesraan dapat
diartikan sebagai suatu keadaan dimana kita memiliki hubungan yang sangat erat
kepada seseorang, dan kita merasa sangat nyaman bila di dekatnya. Kemesraan
juga bersumber dari cinta kasih dan merupakan realisasi nyata. Kemesraan dapat
diartikan sama dengan kekerabatan, keakraban yang dilandasi rasa cinta dan
kasih.
Kemesraan adalah hubungan akrab baik
antara pria dan wanita yang sedang dimabuk asmara maupun yang sudah berumah
tangga. Kemesraan merupakan perwujudan kasih sayang yang telah mendalam. Cinta
yang berlanjut menimbulkan pengertian mesra atau kemesraan. Kemesraan adalah
perwujudan dari cinta. Kemesraan dapat menimbulkan daya kreativitas manusia.
Kemesraan dapat menciptakan berbagai bentuk seni sesuai dengan kemampuan
bakatnya. Kasih sayang adalah perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka
kepada seseorang. Dengan perasaan cinta dan suka kepada seseorang itu
berkembang dan mengikat dan membentuk sebuah embrio yang disebut dengan cinta.
Cinta adalah sebuah perasaan yang diberikan oleh Tuhan pada sepasang manusia
untuk saling mencintai, saling memiliki, saling memenuhi, saling pengertian.
Dengan cinta yang sudah dibentuk dan terbentuk itu akan menciptakan suatu
kemesraan. Kemesraan cintan membuat orang semakin saling mencintai dan
dicintai. Pada akhirnya dengan perpaduan kasih sayang, cinta dan kemesraan
tersebut akan menciptakan suatu keharmonisan dalam kehidupan berumah tangga
maupun dalam menjalin hubungan cinta dengan kekasih kita.
e.
Pemujaan
Pemujaan adalah dimana kita memuja atau mengagungkan sesuatu
yang kita senangi.Pemujaan dapat dilakukan dalam berbagai aspek seperti memuja
pada leluhur,memuja pada agama tertentu dan kepercayan yang ada.seperti
Pemujaan pada leluhur adalah suatu kepercayaa bahwa para leluhur yang telah
meninggal masih memiliki kemampuan untuk ikut mempengaruhi keberuntungan orang
yang masih hidup. Dalam beberapa budaya Timur, dan tradisi penduduk asli Amerika,
tujuan pemujaan leluhur adalah untuk menjamin kebaikan leluhur dan sifat baik
pada orang hidup, dan kadang-kadang untuk meminta suatu tuntunan atau bantuan
dari leluhur. Fungsi sosial dari pemujaan leluhur adalah untuk meningkatkan
nilai-nilai kekeluargaan, seperti bakti pada orang tua, kesetiaan keluarga,
serta keberlangsungan garis keturunan keluarga.
f.
Belas
Kasihan
Belas kasih adalah kebajikan di mana
kapasitas emosional empati dan simpati untuk penderitaan orang lain dianggap
sebagai bagian dari cinta itu sendiri, dan landasan keterkaitan sosial yang
lebih besar dan humanisme-dasar ke tertinggi prinsi-prinsip dalam filsafat,
masyarakat, dan kepribadian.
Dalam surat Yohanes dijelaskan ada
tiga macam cinta. Cinta agape ialah cinta manusia kepada Tuhan. Cinta Philia
ialah cinta kepada ibu bapak (orang tua) dan saudara. Dan ketiga cinta amor
atau eros ialah cinta antara pria dan wanita. Perbedaan antara cinta eros dan
amor ini adalah cinta eros sebagai kodrati sebagai laki-laki dan perempuan,
sedangkan cinta amor karena unsur-unsur yang sulit dinanar, misalnya gadis normal
yang cantik mencintai dan mau dinikahi seorang pemuda yang kerdil.
Disamping
itu masih ada cinta lagi yaitu cinta terhadap sesama. Cinta terhadap sesama
merupakan perpaduan antara cinta agape dan cinta philia. Cinta sesama ini
diberikan istilah belas kasihan untuk membedakan antara cinta kepada orang tua,
pria-wanita, dan cinta kepada Tuhan. Dalam cinta sesama ini dipergunakan
istilah belas kasihan, karena cinta disini bukan karena cakapnya, kayanya,
cantiknya, pandainya, melainkan karena penderitaannya. Penderitaan ini
mengandung arti yang luas. Mungkin tua, sakit-sakitan, yatim, yatim piatu,
penyakit yang dideritanya atau sebagainya.
Jadi
kata kasihan atau rahmah berarti bersimpati kepada nasib atau keadaan yang
diderita orang lain. Kemudian apa bedanya Rahmah dengan Rahman? Kalau Rahman
ada unsur memberi. Misalnya seseorang memusuhi kita, tetapi kita tidak
membalasnya, malahan kita jadikan dia sebagai teman baik. Jadi pengertian
rahmah adalah kita menaruh perhatian (simpati) terhadap penderitaan orang lain,
lalu kita menunjukkan jalan keluar kepadanya. Tetapi kalau kita menaruh rasa
simpati kepada orang yang tidak dalam kesulitan, sehingga menyebabkan rusak
(menjerumuskan), maka hal itu disebut memanjakan.
Dalam surat Al –Qolam ayat 4,” maka
manusia menaruh belas kasihan kepada orang lain, karena belas kasihan adalah
perbuatan orang yang berbudi. Sedangkan orang yang berbudi sangat dipujikan
oleh Allah SWT.”
Perbuatan atau sifat menaruh belas
kasihan adalah orang yang berahlak. Manusia mempunyai potensi untuk berbelas
kasihan. Masalahnya sanggupkah ia menggugah potensi belas kasihannya itu. Bila
orang itu tergugah hatinya maka berarti orang berbudi dan terpujilah oleh Allah
SWT.
Dalam
esai on love ada pengertian bahwa cinta adalah rasa persatuaan tanpa syarat.itu
berarti,dalam rasa belas kasihan tidak terkandung unsure pamrih.Belas kasihan
yang kita tumpahkan benar-benar dari lubuk hati yang ikhlas.Kalau kita
memberikan uang pada pengemis agar mendapatkan pujian,itu berarti tidak
ikhlas,berarti ada tujuan tertentu.Hal seperti itu banyak terjadi dalam
masyarakat.
B. Cara-cara Menumpahkan Belas Kasih
Dalam
kehidupan banyak sekali yang harus kita kasihani dan banyak cara kita
menumpahkan belas kasihan.yang perlu kita kasihani antara lain: Yatim piatu,
orang-orang jompo yang tidak mempunyai ahli waris, pengemis yang benar-benar
tidak mampu bekerja, orang sakit dirumah sakit, orang cacat, masyarakat kita
yang hidup menderita dan sebagainya. Orang –orang itu umumnya menderita lahir
dan batin dan umumnya sedikit tangan yang menaruh belas kasihan.
Berbagai macam cara orang memberikan
belas kasihan bergantung kepada situasi dan kondisi. Ada yang memberikan uang,
ada yang memberikan barang, ada yang memberikan pakaian, makanan dan
sebagainya. Sungguh, alangkah baiknya jika kita dapat lebih berempati terhadap
orang yang membutuhkan. Perbuatan atau menaruh belas kasihan
adalah orang yang berakhlak. Manusia mempunyai potensi untuk berbelas kasihan.
Belas kasihan yang kita tumpahkan benar-benar keluar dari lubuk hati yang
ikhlas.
g.
Cinta
Kasih Erotis
Dalam cinta kasih persaudaraan
merupakan cinta kasih antar orang yang sama dan sebanding. Sedangkan cinta
kasih ibu merupakan cinta kasih terhadapa orang lemah yang tanpa daya. Walaupun
terdapat perbedaan besar antara keduanya tetapi mempunyai kesamaan bahwa pada
hakekatnya cinta kasih tidak terbatas hanya seorang saja. Berlawanan dengan
2jenis cinta kasih diatas adalah cinta kasih erotis yaitu kehausan akan
penyatuan yang sempurna, akan penyatuan dengan seseorang lainnya.
Daftar Pustaka
Kebudayaan Bali#
Kebudayaan Provinsi Bali
I.
Pengertian
Kebudayaan
Kebudayaan adalah suatu hasil karya, cipta,
rasa, dan karsa manusia yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan
menggunakan alam sekitar.
II.
Unsur-Unsur
Kebudayaan Bali
Bali memiliki
banyak macan atau varian dari pakaian adatnya. Untuk perempuan yang masih
remaja menggunakan sanggul gonjer, sedangkan perempuan atau wanita dewasa
menggunakan sanggul tagel, kemudian menggunakan sesentang atau kemben songket,
Kain wastra, Sabuk prada (stagen)
untuk membelit pinggul dan dada, Selendang songket bahu ke bawah, Kain tapih atau sinjang, di sebelah dalam, Beragam ornamen perhiasan, Sering pula dikenakan kebaya, kain penutup dada, dan alas kaki sebagai pelengkap. Untuk pria menggunakan ikat kepala atau udeg lalu menggunakan selendang pengikat atau umpal, kain kampuh, kain wastra, keris, sabuk, kemeja atau jas, serta ornament yang digunakan untuk menghiasi penampilan sang pria.
untuk membelit pinggul dan dada, Selendang songket bahu ke bawah, Kain tapih atau sinjang, di sebelah dalam, Beragam ornamen perhiasan, Sering pula dikenakan kebaya, kain penutup dada, dan alas kaki sebagai pelengkap. Untuk pria menggunakan ikat kepala atau udeg lalu menggunakan selendang pengikat atau umpal, kain kampuh, kain wastra, keris, sabuk, kemeja atau jas, serta ornament yang digunakan untuk menghiasi penampilan sang pria.
b) Rumah Adat
Rumah adat Bali harus sesuai
dengan aturan Asta Kosala Kosali ajaran terdapat pada kitab suci Weda yang
mengatur soal tata letak sebuah bangunan yang hampir mirip dengan ilmu Feng
Shui dalam ajaran Budaya China. Rumah adat Bali harus memenuhi aspek pawongan
(manusia / penghuni rumah), pelemahan (lokasi / lingkungan) dan yang terahir
parahyangan.
Pada umumnya rumah Bali di penuhi dengan pernak-pernik hiasan, ukiran serta warna yang alami lalu patung-patung symbol ritual. Bangunan Rumah Adat Bali terpisah-pisah manjadi banyak bangunan-bangunan kecil - kecil dalam satu area yang disatukan oleh pagar yang mengelilinginya. Seiring perkembangan jaman mulai ada perubahan pada bangunan dimana bangunannya tidak lagi terpisah-pisah.
Pada umumnya rumah Bali di penuhi dengan pernak-pernik hiasan, ukiran serta warna yang alami lalu patung-patung symbol ritual. Bangunan Rumah Adat Bali terpisah-pisah manjadi banyak bangunan-bangunan kecil - kecil dalam satu area yang disatukan oleh pagar yang mengelilinginya. Seiring perkembangan jaman mulai ada perubahan pada bangunan dimana bangunannya tidak lagi terpisah-pisah.
c) Makanan
LAWAR
BETUTU
SATE LILIT
d) Minuman
ES KUWUT BALI
BREM BALI
e) Senjata
KERIS BALI
f) Alat Transportasi
· Udara
g) Seni Budaya
Ø Gamelan
Ø Tarian
v Tari Legong
v Tari Oleg Tamulilingan
v Tari Kecak
Ø Bahasa
Bahasa Bali adalah
sebuah bahasa Austronesi dari cabang Sundik dan
lebih spesifik dari anak cabang Bali-Sasak. Bahasa ini terutama dipertuturkan
di pulau Bali,
pulau Lombok bagian
barat, dan sedikit di ujung timur pulau Jawa. Di Bali sendiri
Bahasa Bali memiliki tingkatan penggunaannya, misalnya ada yang disebut Bali
Alus, Bali Madya dan Bali Kasar. Yang halus dipergunakan untuk bertutur formal
misalnya dalam pertemuan di tingkat desa adat, meminang wanita, atau antara
orang berkasta rendah dengan berkasta lebih tinggi. Yang madya dipergunakan di
tingkat masyarakat menengah misalnya pejabat dengan bawahannya, sedangkan yang
kasar dipergunakan bertutur oleh orang kelas rendah misalnya kaum sudra atau
antara bangsawan dengan abdi dalemnya, Di Lombok bahasa Bali terutama
dipertuturkan di sekitar kota Mataram, sedangkan di pulau Jawa bahasa Bali
terutama dipertuturkan di beberapa desa di kabupaten Banyuwangi.
Selain itu bahasa Osing, sebuah dialek Jawa khas Banyuwangi, juga menyerap
banyak kata-kata Bali. Misalkan sebagai contoh kata osing yang
berarti “tidak” diambil dari bahasa Bali tusing. Bahasa Bali dipertuturkan
oleh kurang lebih 4 juta jiwa.
Jenis bahasa Bali :
v
Bahasa Bali Baku
v
Bahasa Bali Aga
v
Bahasa Bali Jawa
Ø Lagu daerah
Putri Cening Ayu
Putri cening ayu ngijeng cening jumah
Meme luas malu kapeken meblanja
Apang ada darang nasi
Putri cening ayu ngijeng cening jumah
Meme luas malu kapeken meblanja
Apang ada darang nasi
Meme tiang ngiring nongos ngijeng jumah
Sambilan mangempu ajak titiang dadua
Ditekane nyen gapgapin
Meme tiang ngiring nongos ngijeng jumah
Sambilan mangempu ajak titiang dadua
Ditekane nyen gapgapin
Putri cening ayu ngijeng cening jumah
Meme luas malu kapeken meblanja
Apang ada darang nasi
Putri cening ayu ngijeng cening jumah
Putri cening ayu ngijeng cening jumah
Ratu Anom
Ratu anom metangi meilen-ilen
Ratu anom metangi meilen-ilen
Dong pirengang munyin sulinge di jaba
Dong pirengang munyin sulinge di jaba
Enyen ento menyuling di jaba tengah
Enyen ento menyuling di jaba tengah
Gusti Ngurah Alit Jambe Pemecutan
Gusti Ngurah Alit Jambe Pemecutan
h) Lambang Daerah
Lambang Bali berbentuk segi
lima dan berlukiskan Bali Dwipa Jaya yang berarti Jayalah Pulau Bali.
Di dalamnya terdapat gambar bintang, Candi Pahlawan Margarana, Candi Bentar,
rantai, kipas, Yang teratai, padi dan kapas. Bintang segi lima, melambangkan
Ketuhanan Yang Maha Esa. Candi Pahlawan Margarana, menggambarkan jiwa
kepahlawanan rakyat Bali. Candi Bentar, lambang keagamaan yang agung rakyat
Bali. Rantai melambangkan persatuan. Kipas melambangkan kebudayaan Bali. Bunga
teratai lambang Singgasana Batara Siwa.
Sedangkan padi dan kapas melambangkan kemakmuran.
i) Agama, Adat, dan Budaya
Di Bali
dikenal satu bait sastra yang intinya digunakan sebagai slogan lambang negara
Indonesia, yaitu: Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Manggrua, yang bermakna
'Kendati berbeda namun tetap satu jua, tiada duanya (Tuhan - Kebenaran) itu'.
Bisa dipahami jika masyarakat Bali dapat hidup berdampingan dengan pemeluk
agama lain seperti Islam, Kristen, Budha, dan lainnya. Pandangan ini merupakan
bantahan terhadap penilaian sementara orang bahwa Agama Hindu memuja banyak
Tuhan. Kendati masyarakat Hindu di Bali menyebut Tuhan dengan berbagai nama
namun yang dituju tetaplah satu, Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi
Wasa.
Dewa Brahma,
Wisnu, dan Siwa, yang disebut Tri Murti, kendati terpilah tiga, namun terkait
satu jua sebagai proses lahir-hidup-mati atau utpeti-stiti-pralina. Dewata Nawa
Sanga sebagai sembilan Dewata yang menempati delapan arah mata angin dan satu
di tengah kendati terpilah sembilan lalu menjadi sebelas tatkala terpadu dengan
lapis ruang ke arah vertikal bawah-atas-tengah atau bhur-bwah-swah, adalah satu
jua sebagai kekuatan Tuhan dalam menjaga keseimbangan alam semesta. Demikian
pula halnya dengan nama dan sebutan lain yang dimaksudkan secara khusus
memberikan gelar atas ke-Mahakuasa-an Tuhan. Keyakinan umat
Hindu terhadap keberadaan Tuhan/Hyang Widhi yang Wyapi Wyapaka atau ada di
mana-mana juga di dalam diri sendiri - merupakan tuntunan yang selalu mengingatkan
keterkaitan antara karma atau perbuatan dan pahala atau akibat, yang menuntun
prilaku manusia ke arah Tri Kaya Parisudha sebagai terpadunya manacika, wacika,
dan kayika atau penyatuan pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik.
Umat Hindu
percaya bahwa alam semesta beserta segala isinya adalah ciptaan Tuhan sekaligus
menjadi karunia Tuhan kepada umat manusia untuk dimanfaatkan guna kelangsungan
hidup mereka. Karena itu tuntunan sastra Agama Hindu mengajarkan agar alam
semesta senantiasa dijaga kelestarian dan keharmonisannya yang dalam
pemahamannya diterjemahkan dalam filosofi Tri Hita Karana sebagai tiga jalan
menuju kesempurnaan hidup, yaitu:
Hubungan manusia dengan Tuhan; sebagai atma atau jiwa dituangkan dalam bentuk ajaran agama yang menata pola komunikasi spiritual lewat berbagai upacara persembahan kepada Tuhan. Karena itu dalam satu komunitas masyarakat Bali yang disebut Desa Adat dapat dipastikan terdapat sarana Parhyangan atau Pura, disebut sebagai Kahyangan Tiga, sebagai media dalam mewujudkan hubungan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi. Hubungan manusia dengan alam lingkungannya; sebagai angga atau badan tergambar jelas pada tatanan wilayah hunian dan wilayah pendukungnya (pertanian) yang dalam satu wilayah Desa Adat disebut sebagai Desa Pakraman.
Hubungan manusia dengan sesama manusia; sebagai khaya atau tenaga yang dalam satu wilayah Desa Adat disebut sebagai Krama Desa atau warga masyarakat, adalah tenaga penggerak untuk memadukan atma dan angga.
Pelaksanaan
berbagai bentuk upcara persembahan dan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi
Wasa oleh umat Hindu disebut Yadnya atau pengorbanan/korban suci dalam berbagai
bentuk atas dasar nurani yang tulus. Pelaksanaan Yadnya ini pada hakekatnya
tidak terlepas dari Tri Hita Karana dengan unsur-unsur Tuhan, alam semesta, dan
manusia. Didukung
dengan berbagai filosofi agama sebagai titik tolak ajaran tentang
ke-Mahakuasa-an Tuhan, ajaran Agama Hindu menggariskan pelaksanaan Yadnya dalam
lima bagian yang disebut Panca Yadnya, yang diurai menjadi:
1. Dewa Yadnya
Persembahan dan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Upacara Dewa Yadnya ini umumnya dilaksanakan di berbagai Pura, Sanggah, dan Pamerajan (tempat suci keluarga) sesuai dengan tingkatannya. Upacara Dewa Yadnya ini lazim disebut sebagai piodalan, aci, atau pujawali.
Persembahan dan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Upacara Dewa Yadnya ini umumnya dilaksanakan di berbagai Pura, Sanggah, dan Pamerajan (tempat suci keluarga) sesuai dengan tingkatannya. Upacara Dewa Yadnya ini lazim disebut sebagai piodalan, aci, atau pujawali.
2. Pitra Yadnya
Penghormatan kepada leluhur, orang tua dan keluarga yang telah meninggal, yang melahirkan, memelihara, dan memberi warna dalam satu lingkungan kehidupan berkeluarga. Masyarakat Hindu di Bali meyakini bahwa roh leluhur, orang tua dan keluarga yang telah meninggal, sesuai dengan karma yang dibangun semasa hidup, akan menuju penyatuan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Keluarga yang masih hiduplah sepatutnya melaksanakan berbagai upacara agar proses dan tahap penyatuan tersebut berlangsung dengan baik.
3. Rsi Yadnya
Persembahan dan penghormatan kepada para bijak, pendeta, dan cerdik pandai, yang telah menetapkan berbagai dasar ajaran Agama Hindu dan tatanan budi pekerti dalam bertingkah laku.
4. Manusia Yadnya
Suatu proses untuk memelihara, menghormati, dan menghargai diri sendiri beserta keluarga inti (suami, istri, anak). Dalam perjalanan seorang manusia Bali, terhadapnya dilakukan berbagai prosesi sejak berada dalam kandungan, lahir, tumbuh dewasa, menikah, beranak cucu, hingga kematian menjelang. Upacara magedong-gedongan, otonan, menek kelih, pawiwahan, hingga ngaben, adalah wujud upacara Hindu di Bali yang termasuk dalam tingkatan Manusa Yadnya.
5. Bhuta yadnya
Prosesi persembahan dan pemeliharaan spiritual terhadap kekuatan dan sumber daya alam semesta. Agama Hindu menggariskan bahwa manusia dan alam semesta dibentuk dari unsur-unsur yang sama, yaitu disebut Panca Maha Bhuta, terdiri dari Akasa (ruang hampa), Bayu (udara), Teja (panas), Apah (zat cair), dan Pertiwi (zat padat). Karena manusia memiliki kemampuan berpikir (idep) maka manusialah yang wajib memelihara alam semesta termasuk mahluk hidup lainnya (binatang dan tumbuhan).
Panca Maha
Bhuta, yang memiliki kekuatan amat besar, jika tidak dikendalikan dan tidak
dipelihara akan menimbulkan bencana terhadap kelangsungan hidup alam semesta.
Perhatian terhadap kelestarian alam inilah yang membuat upacara Bhuta Yadnya
sering dilakukan oleh umat Hindu baik secara insidentil maupun secara berkala.
Bhuta Yadnya memiliki tingkatan mulai dari upacara masegeh berupa upacara kecil
dilakukan setiap hari hingga upacara caru dan tawur agung yang dilakukan secara
berkala pada hitungan wuku (satu minggu), sasih (satu bulan), sampai pada
hitungan ratusan tahun.
j) Tempat Wisata
1. Tanah Lot
3. Garuda Wisnu Kencana
4. Danau Bratan
Daftar Pustaka
I GDE EKADHARMA S W
13215183/1EA01
Subscribe to:
Posts (Atom)




























